Membangun Budaya Riset Mahasiswa Menuju World Class University


                                                                                                Oleh :

Almunauwar Bin Rusli

Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Pengantar

LPM SUAMOPINI  Memulai pembicaraan tentang Mahasiswa, maka sama halnya kita sedang berdialog dengan masa depan dan berharap diantara mereka ada yang menjadi pemimpin sejati. Mahasiswa dibentuk oleh konstruksi gender-sosial yang kemudian ikut terlibat dalam dinamika Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta. Sepanjang sejarah Mahasiswa, saya mengkategorikan mereka ke dalam empat tipe. Tipe akademis. Mereka kritis juga idealis. Tugas-tugas kuliah cepat selesai dan lebih memilih jalur rasional-transformatif ketimbang teriak-teriakan. Tipe politis. Mereka kaya strategi menggulingkan lawan. Demo adalah ritual yang wajib dikobarkan meski minim kajian yang penting tampil di depan. Tipe Selebritis. Mereka sungguh modis dan narsis sampai tidak bisa membedakan mana pusat pembelajaran dan mana pusat perbelanjaan. Terakhir, tipe mistis. Kehadirannya antara ada dan tiada. Datang tidak menambah, pulang tidak mengurangi.

Membangun budaya berarti membangun mentalitas manusia. Ironisnya, pada tahun 2015 ini tidak satu pun perguruan tinggi Indonesia dapat bertengger dalam urutan 400 besar universitas terbaik di dunia menurut pemeringkatan yang dibuat oleh Times Higher Education World University. Selama kurun 10 tahun terakhir, publikasi ilmuwan Indonesia di kancah internasional jauh lebih rendah dibandingkan dengan Singapura, Thailand, dan Malaysia. Malaysia setiap tahun memproduksi jurnal internasional 4 kali lipat, Singapura hampir 8 kali lipat, (Noorhaidi Hasan, 2015 : 4). Bahkan hanya 1/6 dibandingkan dengan Thailand. (Bambang Purwanto, 2015 : 4). Realitas ini benar. karena saya pernah berkunjung langsung ke tiga Universitas di Thailand khususnya bagian Selatan yaitu Prince of Songkhla University, Yala Rajabhat University serta Fatoni University.

Keterangan data di atas, semakin diperkuat oleh temuan dari portal SCImago yang mendata jumlah publikasi internasional 239 negara pada tahun 2014. Dapat diketahui bahwa penyumbang publikasi ilmiah terbesar untuk khazanah kemajuan pengetahuan, ilmu, dan teknologi tetap Amerika Serikat yang menempati peringkat pertama dengan jumlah 7.846.972. China menempati peringkat kedua dengan jumlah 3.129.719. Inggris menempati peringkat ketiga dengan jumlah 2.141.375. Adapun kontribusi Indonesia yang berada diurutan ke-61 hanya berupa 25.481 artikel. Sehingga, jauh di belakang Thailand pada peringkat ke-43 dengan jumlah publikasi 95.690 serta Malaysia yang menempati urutan ke-37 dengan sumbangan sebesar 125.084 apalagi bila dibandingkan dengan Singapura yang berada di peringkat ke-32 dengan jumlah terbitan 171.037. (Mien A. Rifai, 2015: 2).

Data lain menyebutkan, dana penelitian yang disediakan pemerintah masih sangat terbatas. BD menyatakan bahwa Indonesia hanya mengalokasikan 0,08% dari PDB untuk dana penelitian. Ini jauh di bawah Singapura, Jepang dan negara maju lainnya yang mengalokasikan dana sebesar 2,5-3,0% dari PDB negaranya untuk penelitian yang mendasari industri dan segala aspek keilmuan. (Mayling Oey-Gardiner, 2015:4). Di satu sisi, aturan penggunaan dana penelitian oleh pemerintah sangatlah terkesan administratif-birokratis-politis. Dana penelitian hanya diperoleh untuk satu tahun sedangkan penelitian berkualitas sering memerlukan waktu panjang. Ini menyebalkan. Saya menganalisis, buruknya faktor ketersediaan dan keterjangkauan tradisi penelitian akan berakibat fatal pada semangat penemuan, pembuktian juga pengembangan keilmuan dikalangan mahasiswa.

Melihat kenyataan yang menyedihkan, tentu butuh kesadaran sekaligus peran dosen terlebih mahasiswa tipe akademis. Walaupun, tidak bisa dimungkiri bahwa mahasiswa dalam konteks keindonesiaan cenderung berjumpa dengan berbagai dilema. Kalau di luar negeri, para mahasiswa tidak lagi sempat memikirkan kerja. Nah, kalau di Indonesia kebalikannya. Para mahasiswa tidak lagi sempat memikirkan kuliah. Tuntutan administratif dengan patokan biaya yang sangat tinggi perlahan-lahan mematikan gairah akademis, membusuk, lalu terusir dari pentas perguruan tinggi. Dampak dari kultur seperti ini akhirnya melahirkan mahasiswa apatis. Coba perhatikan, pada kegiatan seminar ilmiah yang penting justru sertifikat bukan diskusinya.

Sekali lagi, saya perlu menegaskan bahwa dunia mahasiswa adalah dunia penelitian bersama. Karena jelas, Undang-Undang No. 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi mengamanatkan bahwasannya semua perguruan tinggi di Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan daya saing dalam peta akademik global. Pendidikan tinggi juga diharapkan dapat menjadi sumber inovasi dan solusi bagi pertumbuhan sekaligus pengembangan bangsa. Pesan ini tentu bisa ditafsirkan bahwa persoalan utama yang dihadapi perguruan tinggi selain masalah teknis manejerial adalah persoalan budaya juga tradisi akademik yang bersumber pada nilai-nilai kebenaran, konsistensi, keterbukaan, penghormatan serta kebebasan. (J. Eka Priyatna, 2015:2).

Paradigma Integratif-Interkonektif

Mahasiswa dan wacana World Class University (WCU) adalah dua elemen penting yang saling menopang. Mahasiswa sebagai motor penggerak sedangkan WCU sebagai tujuan untuk meneguhkan keyakinan dan cara pandang. Paradigma integratif-interkonektif ini hendak merubah pola perguruan tinggi kita selama ini yang masih bersifat universitas pengajaran (teaching university) ke arah universitas penelitian (research university). Universitas yang berbasis pengajaran sesungguhnya hanya melahirkan mahasiswa yang bermental the context of justification ( menguji dan mengaplikasikan teori yang sudah diketahui) bukan the context of discovery (penemuan hal-hal baru). Singkat kata, jangan hanya memberikan ikan tapi tunjukkanlah bagaimana cara memancing yang benar. Saya rasa, kita cukup paham dengan kalimat barusan.

Wujud dari paradigma keilmuan integratif-interkonektif terdiri atas (a) Semipermeable (b) Intersubjective testability (c) Creative imagination. (Amin Abdullah, 2015:6). Mahasiswa akademis wajib memasukan ketiga model ini ke dalam dunia berpikirnya. Pertama, Semipermeable berarti mahasiswa berusaha mencari titik temu antara kultur sains yang bersifat kausalitas dan kultur agama yang bersifat makna sehingga keduanya saling terkait lalu menembus meski tidak secara total. Para mahasiswa mesti membuka diri untuk berkomunikasi dan saling menerima masukan dari disiplin di luar bidangnya. Hubungan saling menembus ini melahirkan corak klarifikatif, komplementatif, afirmatif, korektif, verifikatif, maupun transformatif.

Saya pikir, bentuk jaring laba-laba keilmuan (spider web) bisa memudahkan nalar mahasiswa untuk mencerna model semipermeable. Lihatlah jaring laba-laba yang barangkali ada disekeliling rumah kita, di situ terdapat garis putus-putus, menyerupai pori-pori yang melekat pada dinding pembatas. Uniknya, meski tampak sederhana, jaring laba-baba tersebut saling berhubungan satu sama lain. Sehingga, laba-laba nyaman dan tetap bertahan (survive). Apa arti fenomena ini? Jelas, untuk memberikan pelajaran kepada kita bahwa dinding pembatas yang berpori-pori tersebut tidak saja dimaknai dari batas disiplin ilmu melainkan dari batas ruang dan waktu serta corak berpikir era classical, medieval, modern dan post-modern. Pori-pori menjadi lubang sebagai pengatur sirkulasi keluar-masuknya udara juga informasi antar disiplin keilmuan. Jika hanya terpenjara pada linearitas, maka dunia mahasiswa akan semakin menyempit dan tertinggal dari wacana global yang memiliki karakter inklusif-continous improvement.

Kedua, Intersubjective testability. Model ini menjelaskan bahwa konsep bukanlah diberikan begitu saja oleh alam, tapi ikut dikonstruksi oleh peneliti itu sendiri sebagai pemikir yang kreatif (creative thinker). Oleh karena itu, pemahaman tentang objektif mesti disempurnakan menjadi Intersubjective testability yakni ketika semua komunitas keilmuan dalam hal ini mahasiswa ikut bersama-sama berpartisipasi menguji tingkat kebenaran penafsiran sekaligus pemaknaan data yang diperoleh dari lapangan. (Amin Abdullah, 2015:10). Kehidupan sekarang begitu kompleks jika hanya diselesaikan dengan satu bidang keilmuan saja. Maka pendekatan inter-disiplin, multi-disiplin, dan bahkan trans-disiplin keilmuan mutlak perlu kita kembangkan di tengah-tengah kehidupan bangsa yang multikultural, multireligi serta multiedukasi ini.

Ketiga, Creative imagination. Menurut Koesler dan Ghiselin bahwa imajinasi kreatif baik dalam dunia ilmu pengetahuan maupun dalam dunia sastra seringkali dikaitkan dengan upaya untuk mempertemukan dua konsep framework yang berbeda. Ini mensintesakan dua hal berbeda lalu membentuk keutuhan baru, menyusun kembali unsur-unsur yang lama ke dalam adonan konfigurasi yang fresh. (Amin Abdullah, 2015: 15). Fenomena ini dapat dipahami sebab sebagian besar teori baru yang muncul adalah bentuk keseriusan untuk menghubungkan dua hal yang sebenarnya tidak berkaitan sama sekali. Sebagai contoh, Newton ‘mengawinkan’ dua fakta yaitu jatuhnya buah apel dengan gerak edar atau rotasi bulan . Sedangkan Darwin ‘mengawinkan’ antara tekanan pertumbuhan penduduk dengan daya tahan hidup species binatang.

Membumikan Strategi World Class University

Usaha membumikan serta merealisasikan cita-cita menuju world class university telah bergema kencang dan memang pada tingkatan tertentu berhasil mendorong perguruan tinggi Indonesia untuk berkompetisi melakukan terobosan-terobosan baru (out of the box) dalam pengembangan akademik, penelitian,sumberdaya, termasuk juga sarana prasarana. Tetapi,di satu sisi masih begitu minim yang mampu menerapkannya secara terstruktur, sistematis dan masif. Kebanyakan masih terjebak pada hal-hal yang bersifat jargonik dan formalistik semata. Setidaknya misi utama dari world class university ini adalah perguruan tinggi dituntut menciptakan iklim yang kondusif agar dosen wa bil khusus mahasiswa secara kreatif dan inovatif menjalankan peran serta fungsinya sebagai pelaku utama penelitian yang bermutu juga terencana.

Perguruan tinggi juga mesti memfasilitasi serta melaksanakan kegiatan diseminasi hasil-hasil penelitian dalam berbagai bentuk. Antara lain seminar ilmiah, presentasi ilmiah dalam konteks lokal, regional, nasional bahkan global, publikasi jurnal nasional terakreditasi atau jurnal internasional yang bereputasi. Kerja-kerja mengembangkan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi kemudian dikontekstualisasi dan dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat. Pengabdian masyarakat digarisbawahi sebagai perwujudan kontribusi kepakaran, kegiatan pemanfaatan hasil penelitian dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, serta seni sebagai upaya memenuhi permintaan atau memprakarsai peningkatan mutu kehidupan bangsa. (Noorhaidi Hasan, 2015:3). Lantas, bagaimana caranya?

1. Ciptakan Penelitian Unggulan Prodi

Sebagai akademisi, saya mencermati dengan seksama bahwa kelemahan PTN maupun PTS di Indonesia adalah lemahnya perumusan penelitian unggulan baik di level universitas maupun program studi (prodi). Padahal, hal ini amat penting agar mengetahui posisi serta keberadaaan prodi masing-masing di tengah prodi lain yang semakin menjamur. Penguatan penelitian berbasis prodi ini berfungsi untuk membangun kesadaran dan semangat keterlibatan kolektif di tingkat mahasiswa bahwa karya-karya penelitian, publikasi, dan pengabdian yang mereka hasilkan terfokus pada topik-topik khusus yang terspesialisasi. Ada dua mekanisme utama supaya penelitian unggulan prodi ini tepat waktu, tepat sasaran dan tepat guna. Yaitu bottom up dan top down. (Hilman Latief, 2015:6).

Mekanisme bottom up dilakukan dengan cara meminta seluruh mahasiswa yang berasal dari prodi masing-masing untuk merumuskan topik-topik menjadi spesifik berdasarkan keunggulan prodinya. Selain itu, mahasiswa diwajibkan membuat rumusan tentang isu strategis, permasalahan yang perlu dijawab, dan topik-topik penelitian yang akan dilakukan selama 5 tahun ke depan lalu menyajikannya dalam roadmap penelitian unggulan prodi dalam bentuk fishbone. Saya yakin, hal ini akan berdampak positif-dinamis sehingga mahasiswa akan menjadi spesialis handal di bidangnya secara rasional, operasional, dan terukur. Sebab, ketika berada pada tahap penyeleksian, mahasiswa dapat saling mengonfirmasi, berkonsultasi dan merevisi. Sedangkan mekanisme top down dilakukan oleh pihak perguruan tinggi masing-masing berdasarkan visi-misi yang telah ditetapkan sebelumnya. Perguruan tinggi harus mendukung budaya riset mahasiswa ini baik secara moril maupun materil. Saya menganjurkan kepada perguruan tinggi agar menggunakan analisis SWOT dalam menjalankan mekanisme yang kedua ini agar pembentukan tata pikir (world view) dan tata kelola keilmuan (knowledge management) bisa efisien.

2. Ciptakan Jaringan Internasional

Sebagaimana jaring laba-laba yang telah saya paparkan sebelumnya, maka membentuk kerjasama pada level internasional adalah kebutuhan primer yang tidak dapat ditunda. Kerjasama internasional dapat berupa Student Mobility Program. Kegiatan bersifat reward ini diberikan kepada mahasiswa berprestasi yang telah berhasil membangun budaya riset kolaboratif untuk dikirim ke universitas ternama di luar negeri. Sehingga, sharing knowledge dan sharing experience lintas batas dapat menambah gairah membaca, berpikir, meneliti, dan mempublikasikan hasil riset. Hal ini terus meningkat drastis akibat mahasiswa kita yang semakin intens bersentuhan dengan wawasan-wawasan serta teori-teori baru yang bersifat kontemporer.

Catatan Akhir

Tidak ada yang tiba-tiba bagi kemajuan suatu bangsa, kecerdasan bukanlah salinan genetika. Inspirasi datang dari budaya akademis yang tahan uji, mahasiswa muncul dari tempaan yang tiada henti. Dunia yang bermakna jika tujuan hidup bukan tentang diri sendiri. Maka meneliti adalah cara terhormat untuk memberi pencerahan lewat kekuatan data dan argumentasi. Mahasiswa harus menjadi teladan, menyiapkan Indonesia untuk masa depan. Bersama membangun optimisme diri mewujudkan Indonesia yang berdikari dalam edukasi. Saya harap beban pengajaran di universitas ada baiknya dikurangi kepada aktifitas penelitian (learning by doing) bercorak project based learning. Lagi pula, prinsip andragogy harus memperhatikan konteks, fokus, sosialisasi, individualisasi, sequence, dan evaluasi. Semoga benar-benar dipikirkan demi membangun budaya riset mahasiswa menuju world class university yang sesungguhnya sambil berdoa agar perhatian pemerintah tidak lagi setengah hati kepada anak bangsa sendiri. Tulisan ini hanyalah usaha saya untuk melihat urat nadi perguruan tinggi dari dalam. Jantungnya berdetak, dan mereka bersuara untuk kita simak dengan seksama.

Daftar Pustaka

Abdullah, Amin, “Pendekatan Multidisiplin Dalam Studi Keislaman Di Perguruan Tinggi :Paradigma Integrasi-Interkoneksi Keilmuan”, Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga, 2015.

Gardiner, Oey Mayling, “Mendambakan Universitas Skala Dunia”, Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga, 2015.

Hasan, Noorhaidi, “The Road To Academic Excellence : Riset Kolaboratif sebagai Jalan Meretas Involusi Pengembangan Ilmu Pengetahuan di Indonesia”, Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga, 2015.

Latief, Hilman, “Membangun Tradisi Akademik Dalam Perguruan Tinggi Swasta : Tantangan Dan Pengalaman”, Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga, 2015.

Priyatma, J. Eka, “Indonesia Cerdas 2020”, Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga, 2015.

Purwanto, Bambang, “Membangun Jejaring Dan Kerjasama Penelitian Nirlaba Berkelanjutan Dalam Pendidikan Tinggi Indonesia : Sebuah Tantangan”, Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga, 2015.

Rifai, A. Mien, “Mutu Artikel Dalam Berkala Ilmiah Indonesia : Pantulan Corak Kegiatan Penelitian Di Perguruan Tinggi Kita?”, Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga, 2015.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *