Kota Islami Bergaya Gender Madani

Oleh : Almunauwar Bin Rusli, M.Pd
Menuju Kota : Cita Rasa & Problematika
LPM SUAMOPINI – Komposisi penduduk kota di Indonesia semakin bertambah dari tahun ke tahun. Kenaikan ini tentu saja menjelaskan bahwa cita rasa ekspansi masyarakat untuk menuju Kota sangat tinggi. Cita rasa tersebut kemudian mengubah gaya hidup dari pasif menjadi aktif meskipun tidak semua sesuai harapan.Tahun 2012, jumlah penduduk Indonesia di perkotaan diperkirakan telah mencapai 54 persen. Jika saat ini penduduk Indonesia lebih dari 240 juta, artinya paling sedikit ada 129,6 juta orang yang menyesaki perkotaan. Angka ini melambung tinggi dibandingkan hasil sensus penduduk 2010. Saat itu, sebanyak 49,8 persen dari 237,6 juta penduduk Indonesia tinggal di kota. Ketua Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Sonny Harry B Harmadi mengatakan, meningkatnya proporsi penduduk kota dipicu oleh urbanisasi dan perubahan desa menjadi kota. (nasional.kompas.com 18/07/2016).
Meledaknya euforia menuju Kota sebanding dengan garis problematika. Data menunjukkan, tingkat ketimpangan gender di Indonesia masih tinggi. Fakta ini didasarkan pada ‘Human Development Report’ pada 2013. Partisipasi politik perempuan rendah (18,2%). Indikator lainnya yakni partisipasi pendidikan untuk perempuan sebesar 36,2 %, partisipasi kerja perempuan sebesar 51,2 % dan tingginya angka kematian ibu (AKI) 220 per 100.000 kelahiran. (www.republika.co.id, 25/07/2016). Data lain menyebutkan partisipasi kerja laki-laki mencapai 84%. Jumlah tersebut lebih besar dari angka partisipasi kerja perempuan yang hanya mencapai 51%. Menurut Fasli Jalal, pendapatan pekerja perempuan masih lebih rendah dibandingkan dengan pekerja laki-laki secara rata-rata, yakni Rp 1,4 juta untuk perempuan dan Rp 1,7 juta untuk laki-laki. Padahal, Indonesia telah meratifikasi Konvensi ILO nomor 100 mengenai upah yang sama bagi buruh laki-laki dan perempuan dan nomor 111 tentang diskriminasi pekerjaan dan jabatan (www.geotimes.co.id, 25/07/2016).
Sosiologi menegaskan bahwa masyarakat manapun tidak akan mengalami perubahan hanya karena pengaruh teks kitab suci. Perubahan terjadi karena adanya pergeseran situasi dan kondisi (realitas) materilnya. Teks membutuhkan kurun waktu yang panjang untuk mendesain adat istiadat, sistem sosial, kaidah-kaidah yang mapan dan dasar-dasar yang sudah membumi di masyarakat. (Khalil Abdul Karim, 2007:2). Data menunjukkan, penduduk Indonesia dewasa ini berjumlah sekitar 210 juta (populasi ini dinamis) jiwa dan 50.3% diantaranya terdiri dari kaum perempuan. Dari jumlah tersebut 65% berada pada usia produktif (15-60) tahun. (Said Agil Al Munawar, 2003:106). Saat ini, penerapan Kota Islami bergaya gender madani di Indonesia yang mampu memberikan model kehidupan yang ideal dan realistis berdasarkan nilai-nilai substansial Al-Qur’an belum maksimal. Ini dibuktikan dengan hasil riset Indeks Kota Islami yang dirilis Maarif Institute pada17 Maret 2016. Padahal, Kota merupakan representasi dari pusat produksi, pusat perdagangan, pusat pemerintahan, pusat pendidikan dan kebudayaan, serta sebagai penopang Kota Pusat.
Melalui tulisan ini, penulis ingin menjawab beberapa pertanyaan fundamental. Pertama, bagaimana kesetaraan gender dalam Al-Quran. Kedua, bagaimana peta analisis gender madani. Ketiga, bagaimana komodifikasi Kota Islami bergaya gender madani. Tulisan ini diharapkan memberi hasil guna dalam dua hal. Pertama, dari sisi akademis dapat menambah literatur terkait kesetaraan gender dalam perspektif Alquran sehingga dapat dijadikan referensi alternatif bagi mereka yang melakukan kajian sejenis. Kedua, dari segi praktis, dapat memberikan konsep dasar, peta analisis dan metodologi ruang kota dalam rangka menciptakan budaya kehidupan yang berlandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan, pembebasan dan keimanan. Dengan begitu, cita-cita menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghaffur dapat diwujudkan.
Kesetaraan Gender dalam Al-Qur’an
Oakley (1972) dalam karyanya Gender, Sex and Society mendefinisikan gender dengan perbedaan antara lelaki dan perempuan berdasarkan konstruksi sosial bukan biologi maupun kodrat Tuhan. Gender bisa berubah dari waktu ke waktu, dari satu tempat ke tempat lain, bahkan dari satu kelas ke kelas lain. Perbedaan gender lahir karena dibentuk, disosialisasikan dan diperkuat secara sosial-kultural melalui ajaran agama dan negara. Senada dengan itu, dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya memuat pembedaan peran, perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional antara pria dan wanita yang berkembang di masyarakat (Hasbi Indra dkk, 2004:243)
Salah satu aspek fundamental Islam adalah kemampuannya untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan. Al-Qur’an menggambarkan kedatangan Nabi Muhammad SAW untuk membebaskan belenggu penindasan yang menghilangkan integritas kemanusiaan mereka. Lihat QS al-A’raf:157. (Siti Ruhaini Dzuhayatin, 2002:13). Kesetaraan gender dalam Al-Qur’an merupakan cita-cita ideal Islam agar keberadaan lelaki dan perempuan dapat berhubungan secara kausalitas bukan otoriter. Logika otoriter berimplikasi pada adanya dominasi dan subordinasi. Sehingga, dialog tidak terlaksana dan proses melahirkan inspirasi kreatif menghadapi masalah aktual. Sedangkan hubungan kausalitas lebih berorientasi pada usaha menemukan titik temu melalui kesadaran, penilaian objektif dan dorongan kolektivisme. Kesetaraan ini terlihat pada tiga bukti otentik dalam Al-Qur’an. Pertama, keduanya mendapat godaan yang sama dari syetan (QS Al-A’raf:20). Kedua, ukuran kemuliaan disisi Tuhan adalah prestasi dan kualitas tanpa membedakan etnik dan jenis kelamin (QS Al-Hujurat :13). Ketiga, Al-Qur’an memberikan pujian kepada ulul albab. Ulul albab merujuk kepada lelaki dan perempuan (QS Ali-Imran :195). Tiga bukti otentik ini dapat dijadikan sampel bahwa kesetaraan itu dilahirkan dan diciptakan.
Peta Gender Madani : Membentang Jalur Peradaban
Proses melahirkan dan menciptakan kesetaraan gender jelas membutuhkan indikator-indikator yang dapat dijadikan sebagai peta analisis. Kesetaraan gender yang ingin penulis kemukakan pada bagian ini adalah tipologi gender madani. Gender madani adalah suatu tatanan kehidupan masyarakat kota (lelaki-perempuan) yang beradab dalam membangun, menjalani, dan memaknai kehidupannya. Dasar gender madani ialah persatuan dan integrasi sosial untuk menghindari dari perpecahan sehingga terjalin proses kolaboratif, kompetitif dan kooperatif. Gender madani pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW ketika berdomisili di Madinah. Menurut Ziauddin Sardar, Madinah dibangun atas nilai-nilai etis spiritual dan kultural tertentu. Selain itu, Al-Qur’an memberikan garis pedoman dan prinsip-prinsip untuk semua aktivitas manusia dan kerangka teoritis bagi parameter peradaban Islam (Azaki Khoirudin, 2015 : 201). Bagaimana gender madani bisa terbentuk? Untuk memahaminya, dibutuhkan peta analisis dasar dalam Al-Qur’an serta interpretasi kontemporer yang terdiri dari tiga indikator utama yaitu (a) Identitas (b) Peran (c) Transformasi.
Identitas Gender
Identitas lelaki dan perempuan dalam perspektif mufassir ada dua. Pertama, Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir Ibn Katsir, Tafsir Ruh Al Bayan, Tafsir Al-Kasysyaf, Tafsir Al jami Al Bayan dan Tafsir Al-Maraghi menafsirkan kata nafs wahidah dengan “Adam”, kata ganti minha dengan “dari bagian tubuh Adam”, dan kata zawjaha dengan “hawa”. Kedua, perempuan bukan dari tulang rusuk adam, tapi dari jenis (jins) Adam. Menurut Abu Muslim Al-Ishfahani (termasuk Muhammad Abduh dan al-Thabathabai) kata ganti ha’ pada kata minha dalam ayat tersebut bukan bagian tubuh Adam, tetapi dari jenis Adam. Dia membandingkan pendapat ini dengan menganalisis kata nafs dalam QS Al-Nahl 16:78, Ali-Imran 3:164, dan Al-Taubah 9:128. ((Islah Gusmian, 2003:303-304). Rasyid Ridha menegaskan ide bahwa perempuan dari tulang rusuk berasal dari kitab perjanjian lama (israiliyyat) yakni perempuan bersifat derivatif-sekunder, penyebab Adam diusir dari surga dan eksistensi perempuan bersifat instrumental bukan esensial. (Said Agil Husin Al Munawar, 2003 : 226).
Penulis menggunakan tafsir bagian kedua untuk membentuk interpretasi progressif. Asumsi ini didukung oleh penjelasan lain bahwa di dalam ayat tersebut (QS An-Nisaa 4:1) tidak ada ungkapan secara eksplisit apakah diri itu lelaki atau perempuan begitu pun dengan pasangan yang dimaksud. Semangat ayat tersebut adalah kebersamaan dan keberpasangan sebagai dasar kehidupan, bukan subordinasi satu pada yang lain, sehingga untuk kata nafs wahidah (diri yang satu) dan zaujaha (pasangannya) dibiarkan tidak jelas, sementara ungkapan selanjutnya sangat jelas bahwa lelaki dan perempuan diciptakan dari dua pasangan itu. Penjelasan ini pun diperkuat oleh QS ar-Rum 20:21, “Dan di antara ayat-ayat-Nya, Dia menciptakan untuk kamu sekalian (lelaki dan perempuan) pasang-pasangan dari jenis kalian, agar kalian cenderung dan tentram kepada mereka. Dan Dia menjadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang”. Identitas lelaki dan perempuan dikonstruksi oleh sosio-kultural sehingga hakikat penciptaan hanya bersifat karakteristik serta modal dasar untuk merepresentasikan diri.
Peran Gender
Al-Qur’an menunjukkan bahwa kedudukan yang dimiliki oleh manusia itu tidak mutlak given, tapi ada usaha yang dilakukannya sehingga bisa mencapainya (QS An-Nisaa :95, QS At-Taubah :20). Asbabun nuzul QS An-Nisaa 4:34 pun bermaksud hanya pada kehidupan rumah tangga yaitu hubungan suami-istri, bukan hubungan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat umum. Menurut Rasyid Ridha, unsur-unsur yang terkandung dalam pengertian qawwam adalah membela (himayah), melindungi (ri’ayah), mengampu (wilayah), dan mencukupi (kifayah). Kriteria perempuan yang berperan di ruang privat dan publik adalah shalihah, qanitah, dan hafidhah li al-ghaib. (Hamim Ilyas, 1997:216-227).
Menurut Syahrur, ciri rijal dan nisa yang bebas gender bermakna bahwa ayat ini sederhananya menyatakan kompetensi tinggi, kekuatan moral, determinasi, pendidikan, dan kesadaran kultural yang kuat akan selalu memposisikan laki-laki dan perempuan untu bertanggung jawab atas satu sama lain yang tidak memiliki keunggulan akan hal itu. Jadi, qiwamah merujuk kepada setiap penjagaan dalam setiap aspek kemasyarakatan, tidak secara sederhana di dalam keluarga. Pandangan Syahrur ini lebih didasarkan pada QS Al-Baqarah 2: 187. Dia berpendapat bahwa istilah libas (pakaian atau bersatu, intertwined) merujuk kepada simbosis mutualisme. Jadi, hubungan yang dikerangkakan adalah salah satu dari kesetaraan dan ekuivalensi peran. (Abdullah Saeed, 2016: 208-209).
Secara terperinci, Al-Qur’an membagi peran sentral antara lelaki dan perempuan pada tiga bidang, yaitu politik, pekerjaan, dan kewajiban belajar. Pertama, dalam bidang politik, dapat dirujuk dalam QS Al-Taubah ayat 71 :“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah awliya’ bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh untuk mengerjakan yang makruf, mencegah yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan mereka taat terhadap Allah serta Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Mahabijaksana”. Kata awliya’ bermakna kerjasama dan bantuan, sedangkan makruf bermakna kebaikan termasuk memberi kritik kepada penguasa. Lelaki dan perempuan hendaknya berperan aktif di masyarakat agar mampu melihat dan memberi saran konstruktif. (M. Quraish Shihab, 1999: 273).
Kedua, dalam bidang pekerjaan, Islam membenarkan mereka aktif dalam berbagai aktivitas. Perempuan boleh bekerja dalam berbagai bidang selama pekerjaan tersebut dilakukannya dalam suasana terhormat, sopan, serta selama dapat memelihara agamanya dan dapat pula menghindari dampak negatif dari pekerjaan tersebut terhadap diri maupun lingkungannya. Ketiga, dalam bidang kewajiban belajar, Islam mewajibkan untuk menuntut ilmu. “Bacalah demi Tuhanmu yang telah menciptakan. Keistimewaan manusia yang menjadikan para malaikat diperintahkan sujud kepadanya adalah karena makhluk ini memiliki pengetahuan (QS. Al-Baqarah 2:31-34)”. Al-Qur’an memberikan pujian kepada ulu al-albab yakni manusia yang berpikir dan berzikir. (M. Quraish Shihab, 1999: 275-277). Kerangka berpikir yang dapat dijadikan dasar argumentasi adalah peran gender dalam Al-Qur’an bersifat praktikal-empiris melalui sistem berpartisipasi dan berprestasi.
Transformasi Gender
Penulis membagi model transformasi ini ke dalam tiga kategori yaitu (a) relasi individual (b) relasi sosial (d) relasi negara. Pertama, relasi individual menekankan kepada hubungan partisipatoris dengan pendekatan humanis, rasional dan fungsional. Pendekatan humanis adalah lelaki dan perempuan saling meningkatkan potensi akademik dan menghayati nilai agama dengan nilai kemanusiaan sebagai pondasi eksistensi. Pendekatan rasional adalah lelaki dan perempuan mendayagunakan akal sehat dalam menjelaskan gagasan, menghasilkan tujuan, serta mengarahkan implementasi. Pendekatan fungsional adalah lelaki dan perempuan mengacu kepada analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman.
Kedua, relasi sosial menekankan kepada hubungan organisatoris lelaki-perempuan. Implikasinya (a) membentuk kerangka acuan terkait proses produksi, reproduksi, dan representasi akan tanggung jawab serta peran mengatur masyarakat (b) menyediakan akses pembagian kerja berdasarkan kompetensi (c) menjadi pedoman dalam pembuatan keputusan program kesejahteraan.
Ketiga, relasi Negara menekankan kepada empat model akomodasi. (a) akomodasi struktural, bentuk ini ditandai dengan adanya pemimpin Islam politik ke dalam birokrasi eksekutif dan legislatif (b) akomodasi legislatif, bentuk ini ditandai dengan adanya keterlibatan sekaligus kontrol aktif dalam perencaanaan, pelaksanaan dan pelaporan regulasi undang-undang (c) akomodasi kultural, bentuk ini ditandai dengan adanya nuansa Islam dari segi pemikiran, perilaku maupun dalam wujud simbol-simbol (d) akomodasi infrastruktural, bentuk ini ditandai dengan dibangunnya pusat-pusat pendidikan, pekerjaan dan pemerintahan yang mengedepankan prinsip keadilan, persaudaraan dan kebebasan.
Komodifikasi Kota Islami Bergaya Gender Madani
Setelah memahami konsep sekaligus mengikuti peta analisis di atas, maka sekarang kita dapat melihat bentangan peradaban yang menjadi sumber kekuatan sekaligus kesetaraan lelaki dan perempuan dalam Al-Qur’an. Hal ini kemudian akan ditarik lagi untuk didesain kembali dalam sebuah tata perkotaan yang Islami. Hasil penelitian Maarif Institute pada 17 Maret 2016 mendefinisikan bahwa Kota Islami adalah kota yang aman, sejahtera, dan bahagia. Variabel pertama merujuk kepada QS Al-Baqarah :126. Dalam ayat tersebut, Nabi Ibrahim berdoa agar negerinya aman(aminan). Variabel kedua merujuk juga pada doa Nabi Ibrahim ketika memohon rezeki bagi penduduknya. Rezeki dapat dipahami sebagai kesejahteraan melalui pendidikan, kesehatan, pendapatan dan pekerjaan. Variabel ketiga merujuk kepada QS Saba :15 yakni mendeskripsikan rakyat yang hidup di lingkungan yang asri dan makmur. Bahagia adalah perasaan nyaman subjektif dan berdimensi kolektif seperti kemauan untuk berbagi dan hidup harmoni (maarifinstitute.org, 24/07/2016).
Komodifikasi agama (baca: Kota Islami) adalah cara bagaimana Islam dikemas dan ditawarkan kepada khalayak yang lebih luas sekaligus menghasilkan kerangka kerja untuk tatanan moral masyarakat melalui objektifikasi dan sistematisasi nilai-nilai dan praktik Islam sebagai sebuah model normatif penataan masyarakat. Islam publik -di Kota Islami- memainkan peran penting dalam menyalurkan perubahan sosial, mengamankan penataan sosial dan mempromosikan demokratisasi akar rumput dalam komunitas-komunitas muslim. (Noorhaidi Hasan, 2016 : 230-237). Alquran merombak struktur masyarakat qabilah yang berciri patriarki paternalistik menjadi masyarakat ummah yang berciri bilateral-demokratis. Masyarakat qabilah hanya bergulir di kalangan lelaki, sedangkan masyarakat ummah ukurannya adalah prestasi dan kualitas tanpa membedakan jenis kelamin dan suku bangsa. Itu alasannya mengapa Rasulullah mengganti nama Yastrib menjadi Madinah, sebab Yastrib terlalu berbau etnik (syu’ubiyah) sedangkan Madinah lebih kosmopolitan. (Syarif Hidayatullah, 2010:55).
Penataan Kota Islami bergaya gender madani dapat dirumuskan melalui sinergisitas (a) pesantren-madrasah-sekolah, (b) ruang industri, dan (c) pusat pemerintahan. Pertama, lembaga pendidikan merupakan tempat utama dalam pembentukan masyarakat Madani. Rasulullah menyadari bahwa komitmen terhadap sistem, akidah dan tatanan Islam baru akan tumbuh dan berkembang dari kehidupan sosial yang dijiwai oleh semangat yang lahir dari aktivitas lembaga pendidikan. Sebab, melalui lembaga pendidikan, kaum muslimin akan sering bertemu dan berkomunikasi, sehingga tali ukhuwwah dan mahabbah semakin terjalin kuat. Selain itu, lembaga pendidikan juga berperan aktif sebagai produsen ilmu pengetahuan dalam membentuk karakter sekaligus keterampilan generasi bangsa yang tercerahkan serta memiliki kesadaran demokratik.
Kedua, ruang industri. Rasulullah meletakkan dasar-dasar sistem keuangan negara sesuai dengan ketentuan-ketentuan al-Quran. Seluruh paradigma berfikir dibidang ekonomi serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari yang tidak sesuai dengan ajaran Islam dihapus dan digantikan dengan paradigma baru yang sesuai dengan nila-nilai Qurani, yakni persaudaraan, persamaan, kebebasan, dan keadilan. Islam mengakui kepemilikan pribadi. Mencari nafkah sesuai hukum yang berlaku dan dengan cara yang adil, merupakan suatu kewajiban yang sesuai dengan kewajiban dasar Islam. Kewajiban tersebut tidak membatasi jumlah kepemilikan swasta, produksi barang dagang atau suatu perdagangan, tetapi hanya melarang kekayaan melaluai cara-cara yang ilegal atau tidak bermoral. Hal ini berdasarkan QS Al-Hasyr :7.
Ketiga, pusat pemerintahan. Tempat ini merupakan tolak ukur kinerja pemerintah dalam mengelola kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan Kota, pembangunan infrastruktur, penyediaan pelayanan perkotaan seperti kesehatan, penciptaan lapangan pekerjaan, pendidikan, pelayanan-pelayanan sosial, dan regulasi perilaku masyarakat umum. Pusat pemerintahan dalam konteks membentuk tatanan gender madani harus berlandaskan prinsip-prinsip maqashid syariah. Prinsipnya adalah hifdz al-din atau perlindungan atas agama, hifdz al-nafs atau perlindungan terhadap hak hidup, hifdz al-aql atau perlindungan terhadap hak berpikir, hifdz al-nasl atau perlindungan terhadap hak-hak reproduksi, dan hifdz al-mal atau perlindungan terhadap hak-hak milik. Lima prinsip ini oleh Imam Syatibi disebut sebagai “Ittifaq al-milal”, manifestasi dari konsensus agama-agama, tidak hanya Islam. Karena itu, lima prinsip ini bersifat universal. (Akhmad Sahal, 2016 : 210).Tiga rumusan ini menurut hemat penulis perlu dirancang berdasarkan prinsip partisipasi masyarakat, tegaknya supremasi hukum, transparansi, pemberdayaan stakeholder, berorientasi pada konsensus, kesetaraan, efektivitas dan efesiensi, akuntabilitas serta visi strategis. Sinergisitas tiga lokus ini juga dirancang posisinya ke tengah pusat kota dan jarak antar lokus tersebut saling bersinggungan. Hal ini berimpilkasi kepada aspek ketersediaan dan keterjangkauan sebagaimana didasarkan pada teori konsentris yang berbentuk bundaran.
Penutup
Masyarakat kota identik dengan modal pembangunan nasional. Modal ini dibentuk dari kemapanan kualitas SDM dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan, tekonologi dan mencermati perkembangan global. Pembangunan nasional mengacu kepada kepribadian bangsa dan nilai luhur yang universal untuk mewujudkan kehidupan yang berdaulat, mandiri, berkeadilan, sejahtera, maju, serta kukuh kekuatan moral dan etika. Komodifikasi Kota Islami merupakan upaya pengelolaan pembangunan kota berkelanjutan yang dilakukan dengan sistem dan strategi yang terintegrasi, holistik dan komprehensif sehingga dapat mencapai tujuan dan sasaran sesuai dengan rencana dan tahapan yang ditetapkan. Implikasinya akan membuat penduduk kota (lelaki-perempuan) merasa aman, sejahtera dan bahagia seperti masyarakat madinah. Islam adalah ad-din wa an-ni’mah (agama dan peradaban) sekaligus sebagai din al hadharah (agama berkemajuan).Syaikh Mahmud Syaltut menyatakan Islam merupakan ketentuan Ilahi yang menetapkan prinsip-prinsip umum untuk menata urusan manusia guna mencapai kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat, memberi petunjuk kepada kebaikan, kebenaran, dan keindahan serta memantapkan kedamaian dan ketentraman bagi manusia seluruhnya. (Quraish Shihab, 2000:53). Islam yang ajarannya termanifestasikan di dalam Al-Qur’an harus membawa perubahan nyata. Komodifikasi Kota Islami bergaya gender madani memuat pesan-pesan berkemajuan yang bersifat multiaspek dalam kehidupan agama, maupun pada seluruh dimensi kehidupan. Hal ini kemudian melahirkan peradaban alternatif yang unggul secara lahiriah maupun rohaniah.
Almunauwar Bin Rusli, M.Pd (Peneliti dan Pengamat masalah Pendidikan Islam Kontemporer di IAIN Manado)
Bibliografi
Buku
Al Munawar, Said Agil Husin. 2003. Aktualisasi Nilai-nilai Qur’ani, Jakarta : Ciputat Press.
Al Munawar, Said Agil Husin. 2003. Al-Qur’an : Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, Jakarta : Ciputat Press.
Amirrachman, Alpha dkk (editor), 2015. Islam Berkemajuan untuk Peradaban Dunia, Bandung : Mizan.
Dzuhayatin, Siti Ruhaini, dkk, 2002. Rekonstruksi Metodologis Wacana Kesetaraan Gender dalam Islam, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Gusmian, Islah, 2003. Khazanah Tafsir Indonesia : Dari Hermeneutika hingga Ideologi, Jakarta : Teraju.
Hidayatullah, Syarif, 2010. Teologi Feminisme Islam, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Ilyas, Hamim dkk. 1997.Spiritualitas Al-Qur’an dalam Membangun Kearifan Umat, Yogyakarta : LPPAI UII.
Indra, Hasbi dkk. 2004. Potret Wanita Shalehah, Jakarta : Penamadani.
Karim, Khalil Abdul, 2007. Relasi Gender : Pada Masa Muhammad & Khulafaurrasyidin, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Klinken, Gerry van & Berenschot, Ward. 2016. In Search of Middle Indonesia : Kelas Menengah di Kota-kota Menengah, KITLV-Jakarta : Pustaka Obor Indonesia.
Saeed, Abdullah, 2016. Al-Qur’an Abad 21 : Tafsir Kontekstual, Bandung : Mizan.
Sahal, Ahmad dkk, 2016. Islam Nusantara : Dari Ushul Fiqh hingga Paham Kebangsaan, Bandung : Mizan.
Shihab, M. Quraish, 1999. Membumikan Al-Qur’an : Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung : Mizan.
Shihab, M. Quraish. 2000. Secercah Cahaya Ilahi, Bandung : Mizan.
Sumber Internet
http://nasional.kompas.com/read/2012/08/23/21232065/%20Hampir.54.Persen.Penduduk.Indonesia.Tinggal.di.Kota. Diakses pada 18/07/2016
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/12/23/my8fxj-ketimpangan-gender. Diakses pada 25/07/2016
http://geotimes.co.id/partisipasi-kerja-perempuan-masih-kurang/. Diakses pada 25/07/2016
maarifinstitute.org. Diakses pada 24/07/2016

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *