Meneropong Ruang Pendidikan

LPM SUAMOPINI – Tulisan ini merupakan akumulasi pengalaman dan pandangan saya selama terlibat aktif dengan dunia pendidikan atau dalam sesi perkuliahan. Pada hakikatnya, dunia pendidikan telah memuat seperangkat alat pembelajaran yang dapat kita gunakan bersama untuk menyentuh hati, menggandeng tangan, sekaligus membentuk masa depan generasi muda agar menjadi kaum pribumi yang disegani namun tetap santun juga rendah hati. Semua usaha pendidikan bermuara kepada dua rasa, yaitu kepedulian lalu keberpihakan. Rasa ini sudah sepantasnya diwujudkan dalam bentuk keyakinan, pemikiran serta penemuan sehingga muncul ruang ketersediaan sekaligus keterjangkauan. Oleh sebab itu, tulisan ini akan mengkaji secara singkat tiga aspek penting dalam ruang pendidikan sehingga memiliki karakter berkemajuan. Setiap aspek tersebut sangatlah diperlukan untuk pengembangan profesionalisme, penumbuhan motivasi, maupun pengawasan kualitas.

Basis Koordinasi Sebagai Jaringan Keilmuan

Secara sederhana, koordinasi berarti kerjasama yang sifatnya praktikal-empiris melalui proses berpartisipasi serta berprestasi berlandaskan dorongan motivasional bukan instruksional. Sedangkan menurut hemat saya, konsep koordinasi yang ideal itu adalah sebuah sistem berkelanjutan yang berorientasi pada kebutuhan partner kerja secara terlembaga dan terkontrol dengan mengacu kepada tupoksi masing-masing. Orientasi ini harus kronologis dan dialogis dengan tiga pendekatan.Pendekatan humanis adalah seluruh elemen dalam sekolah tersebut saling meningkatkan potensi dan menghargai serta mengakui nilai-nilai kemanusiaan sebagai pondasi eksistensi. Pendekatan rasional adalah seluruh elemen dalam sekolah tersebut mendayagunakan akal sehat dalam menjelaskan gagasan, menghasilkan tujuan, serta mengarahkan implementasi. Pendekatan fungsional adalah seluruh elemen dalam sekolah tersebut  mengacu kepada analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman ketika melakukan perubahan, mempertajam prinsip, sekaligus memperjuangkan pilihan.

Sebagai studi kasus dan kajian perbandingan, sekolah muslim Darul Ghufran Mosque di kawasan Tampines Simei Singapore telah menerapkan sistem koordinasi HEART. Home support, tindakan aktif seluruh orang tua dalam mendukung proses pendidikan anaknya baik dari segi moril maupun materil di sana. Environment,  hubungan  belajar dengan lingkungan hidup yang bersih. PM Singapura telah merumuskan itu dalam undang-undang yang ketat. Active involvement, guru selalu mengajak anak untuk mendiskusikan seperti apa model terbaik agar mereka bisa belajar dengan senang hati. Resource, fasilitas yang diberikan oleh Darul Ghufran Mosque sudah memadai. Teacher, guru di Darul Ghufran Mosque sangatlah peduli terhadap perkembangan murid dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Sebagian orangtua juga ikut serta membantu guru untuk mengarahkan anak didik di dalam kelas. Dan orangtua yang terlibat aktif ini kebanyakan memilih karir sebagai ibu rumah tangga saja tanpa ada kesibukan kerja. Ini adalah sebagian dari hasil pengamatan lapangan saya ketika melakukan The Comparative Study of Islamic Education in Southeast Asia(Singapore) selama 10 hari (22 Februari-03 Maret)  yang didanai oleh rekan Professor di Wisconsin Madison University USA 2016.

Identitas Kepemimpinan : Lokomotif Peradaban

Statement  yang menempatkan dimensi kepemimpinan sebagai instrument utama dalam sekolah sebab di dalamnya ada kematangan visi, mental keberanian, realita yang diciptakan, sekaligus nilai etika yang dipraktekan. Kematangan visi berarti kepala sekolah harus berpikiran terbuka dan kritis. Kepemimpinan seperti ini mau dan mampu mendengarkan suara guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orangtua, dan masyarakat sekitar. Karena hukum dalam kehidupan ini ialah “everything is connected to everything else”. Mental keberanian berarti upaya kreatif dan strategis dari kepala sekolah dalam mengambil berbagai alternatif untuk mencari inovasi-inovasi baru meski penuh resiko. Di sini kepala sekolah sangatlah out of the box. Dalam hemat saya, indikator dari keberanian ini ialah pengaruh, pergerakan, pengembangan, dan pemberdayaan. Realita yang diciptakan berarti kepala sekolah  hanya percaya pada data yang benar dengan melibatkan unsur identifikasi, klasifikasi, analisis, komparasi serta interpretasi berkenaan dengan hambatan-hambatan personal maupun organisasional. Untuk meneropong realita ini perlu menggunakan pendekatan issue aktual bukan normatif-apologetik. Terakhir, nilai etika yang dipraktekan berarti kepala sekolah itu bukan hanya sekedar produk legalitas melainkan memiliki kepedulian, keberpihakan, sekaligus sensivitas yang tinggi terhadap rekan kerjanya.

Lembaga Pendidikan  Qur’an Center yang terletak di Jl. DR. Soetomo No. 1 Sekupang Batam, Provinsi Kepulauan Riau saya pikir dapat dijadikan contoh relevan. Qur’an Center memiliki SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Komposisi ilmu umum dan ilmu agama diatur secara professional di bawah kepemimpinan H. Mahadi Rahman, SQ, M.Pd.I. Dalam pengamatan saya, model kepemimpinan yang diterapkan di tempat ini bercorak relasional bukan struktural. Hubungan struktural mencerminkan adanya dominasi dan subordinasi. Implikasinya adalah dialog tidak akan terlaksana sehingga proses melahirkan inspirasi kreatif menghadapi masalah aktual dalam keberlangsungan sebuah institusi. Sedangkan corak relasional mereka mengintegrasikan tiga unsur utama yaitu golongan akademisi, pembisnis, dan pemerintah. Ketiga unsur inilah yang membuat H. Mahadi Rahman sukses menanamkan ideologi keislaman, merekrut peserta didik dari berbagai pulau, sekaligus melahirkan program-program pembelajaran yang memiliki sinkronisasi dengan dunia kerja. Sudah banyak qori’ dan qoriah Nasional yang dicetak oleh Qur’an Center Batam. Oleh sebab itu, tidak heran kalau Mantan Wamenag  Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA pernah memuji manajemen yang mereka laksanakan. Ini adalah hasil dari kunjungan saya di Qur’an Center Batam 31 Maret-07 April 2016 dalam rangka menghadiri undangan Pelatihan dan Pembinaan Intensif Kepada Peserta Potensial  Mewakili Provinsi Kepulauan Riau pada MTQ Nasional XXVI Tahun 2016 di Mataram, Provinsi  Nusa Tenggara  Barat.

Bentuk kepemimpinan pendidikan yang ideal adalah memiliki kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan, dan kompetensi supervisi. Kompetensi kepribadian memiliki lima indikator (a) berakhlak mulia (b) jiwa integritas (c) pengembangan diri (d) bersikap terbuka dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi (e) tidak tempramental. Kompetensi manajerial memiliki lima indikator (a) menyusun perencanaan sekolah untuk berbagai tingkatan pencapaian (b) mengembangkan organisasi sekolah sesuai dengan kebutuhan (c) mengelola hubungan sekolah dan masyarakat dalam rangka pencarian dukungan ide, sumber belajar, sekaligus pembiayaan (d) memanfaatkan kemajuan teknologi informasi sekolah bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah(e) melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah dengan prosedur yang tepat serta merencanakan tindak lanjutnya.

Kompetensi kewirausahaan memiliki lima indikator (a) menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah(b) bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah sebagai organisasi pembelajar yang aktif (c) memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi (d) pantang menyerah dan selalu mencari solusi (e) memiliki naluri wirausaha dalam mengelola kegiatan produksi jasa sekolah sebagai sumber belajar peserta didik. Terakhir, kompetensi supervisi memiliki lima indikator (a) melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik yang tepat (b) menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme (c) bekerjasama dengan pihak lain untuk kepentingan sekolah (d) berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan (e) memiliki kepekaan sosial terhadap orang atau kelompok lain.

Sebagai contoh adalah Sekolah Pirayanawin Khlonghin Wittaya School, Pattani, Thailand Selatan. Sekolah muslim (SD-SMP-SMA) ternama ini dipimpin oleh Dr. Muhammad Asamee Arbubaka, lulusan dari Chulalongkorn University Bangkok. Kami berteman baik. Dalam pengamatan saya, beliau juga memiliki bentuk kepemimpinan seperti penjelasan di atas. Dari sisi kepribadian, beliau taat agama karena basisnya pondok pesantren dan keturunan keluarga pencinta Al-Quran. Dari sisi manajerial, beliau memiliki visi strategis ke depan yakni menjadi “world class standard school by the year 2018”. Selain itu, beliau mendatangkan guru dari Indonesia, Malaysia, Brunei, Philipina, Nigeria, Suriah, dan Mesir. Beliau menciptakan paradigma integrasi-interkoneksi, dedikatif-inovatif, dan inklusif-continous improvement antara sains dan agama. Dari sisi kewirausahaan, beliau  punya usaha seperti pertanian serta perikanan dan relasi dengan pengusaha maupun pemerintah  di Thailand, sehingga gedung dan berbagai sarana-prasarana penunjang inovasi pembelajaran sangat mendukung. Dari sisi supervisi, beliau giat melakukan penilaian dan pengevaluasian sekaligus perencanaan ke depan. Bisa di kelas, kantor, masjid, masyarakat sekitar, maupun di rumah guru-guru asing yang berada di dalam lingkungan sekolah.

Ini adalah hasil kunjungan saya ketika menjadi panitia pelaksana English Camp 2015 di Pirayanawin Klonghin Wittaya School bersama teman-teman pengajar tamu dari Indonesia. Saya menjadi salah satu pengajar di Munithi Chumchon Islam Seksa Foundation School, Pattani, sejak November 2014-Maret 2015 atas sponsor IAIN Manado dan Badan Alumni Internasional Thailand Selatan.

Perjumpaan Sekolah & Biaya

      Persoalan sekolah dan biaya selalu menguat di level masyarakat kelas menengah bawah  dan banyak pihak yang ikut menggugat. Maka dalam hemat saya,  langkah-langkah strategis untuk menyusun anggaran biaya pendidikan itu meliputi (a) menginventarisasi rencana yang akan dilaksanakan (b) menyusun rencana berdasar skala prioritas (c) menentukan program kerja dan rincian program (d) menetapkan kebutuhan untuk pelaksanaan rincian program (e) menghitung dana yang dibutuhkan (f) menentukan sumber dana untuk membiayai rencana. Dalam menjalankan pembiayaan pendidikan di lapangan, ada prinsip-prinsip yang harus kita pegang bersama yaitu prinsip keadilan, kecukupan, dan keberlanjutan. Pembiayaan pendidikan disusun dalam rangka melaksanakan fungsi-fungsi pemihakan terhadap masyarakat miskin, penguatan ekonomi, dan desentralisasi pendidikan, serta pemberian insentif dan disinsentif. Pembiayaan pendidikan ini juga mempunyai dasar hukum yang bisa kita lihat pada Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Bab IX Standar Pembiayaan  Pasal 62 ayat 1,2 dan 3.

Catatan Penutup

        Perlu ditegaskan sekali lagi bahwa dimensi ruang pendidikan yang berkemajuan jelas membutuhkan basis koordinasi sebagai jaringan keilmuan yang terkontrol dan terlembaga, identitas kepemimpinan yang mampu mempengaruhi, menggerakkan, memberdayakan dan mengembangkan, serta konsep dan strategi bagaimana agar sekolah tidak berbenturan dengan masalah biaya maupun sebaliknya. Ketiga aspek ini menurut saya akan segera tercipta apabila mulai sekarang para pelaku aktif di dunia pendidikan mau menerapkan budaya yang bernuansa kooperatif, kompetitif, kolaboratif dan metodologis pada segala bidang di suatu lembaga pendidikan terkait. Semoga !

 Oleh :

Almunauwar Bin Rusli

Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *