Sarung Masa Depan Kampus Islam

Memori

LPM SUAMOPINI – Inspirasi awal tulisan ini bermula ketika saya tinggal di Singapore selama 10 hari untuk meneliti Lembaga Pendidikan Islam di sana sebagai wujud kerjasama dengan rekan Professor di Amerika. Waktu itu, tepatnya hari ke-4, saya memutuskan berangkat jam 6 malam ke National University of Singapore (NUS) dari Tampines Interchange via Bus. Singkat cerita,  ternyata saya disediakan tempat tinggal dan akhirnya menetap di kawasan Pasir Panjang atas kebaikan hati masyarakat Melayu tempatan. Lokasi antara NUS dan Pasir Panjang memang berdampingan sehingga mudah dalam mengumpulkan data-data penelitian di Perpustakaan Pusat.Usaha pengumpulan data berjalan dengan lancar tanpa kendala yang cukup berarti bahkan saya diberikan kesempatan  menggunakan fasilitas kampus termasuk akses internet. Tentunya, ini berkat bantuan teman-teman saya yang berk

uliah di NUS. Mereka adalah Taqiuddin Thamrin (Sociology), Afra Alatas (Religious Studies), dan Fatin Nazurah (Malay Studies). Perjumpaan hingga persentuhan dengan pikiran-pikiran mereka bertiga amatlah berkesan di hati saya. Agaknya tidak berlebihan kalau saya menyebut mereka sebagai “mitra berperadaban” yang meneguhkan, mencerahkan, dan berkemajuan.

Kembali lagi ke persoalan sarung. Sebagai seorang muslim, saya memiliki kebiasaan klasik yaitu membawa sarung ketika hendak berpergian kemana-mana. Alasan mendasarnya tentu saja untuk dipakai sholat dan kalau dalam keadaan darurat bisa digunakan juga buat menyelimuti tubuh. Sarung memang bersifat multifungsi, lebih nyaman, serta praktis kepada semua kalangan. Di lantai bagian bawah Perpustakaan Pusat NUS ada sebuah ruangan kecil yang digunakan oleh para Mahasiswa Muslim untuk menunaikan kewajiban sholat. Masjid tidak tersedia di Universitas ini melainkan hanya di wilayah Celementi Road, namanya Masjid Tentera Diraja. Ini adalah satu-satunya Masjid yang paling dekat dengan NUS. Kalau Jum’at tiba, jumlah jamaah luar biasa banyaknya. Di Mushola yang tidak mempunyai warna-warni simbol keagamaan inilah saya biasa meluangkan waktu untuk beribadah disela-sela kesibukan mengumpulkan data-data penelitian di dalam Perpustakaan. Sarung berwarna orange tersebut pun sering saya gunakan. Namun, ‘hubungan’ kami putus di tengah jalan. Pasalnya, ketika dalam perjalanan ke Changi Airport untuk kembali ke Indonesia, saya baru sadar bahwa sarung tersebut ketinggalan. Saya merasa sedih karena benda itu punya banyak kenangan. Tapi, lama-kelamaan, kesedihan itu justru berubah menjadi bahan renungan.

Mengurai Dimensi Filosofis

Berangkat dari memori di atas, saya selalu percaya dengan satu hukum kehidupan bahwa “semakin dalam perasaanmu terhadap sesuatu, maka semakin besar pula makna yang akan engkau ciptakan untuknya”. Dimensi filosofis ini terletak pada bentuk segiempat sarung dimana titik-titik sudutnya saling terhubung secara fungsional bukan struktural. Hubungan struktural mencerminkan adanya dominasi dan subordinasi. Implikasinya adalah dialog tidak akan terlaksana sehingga proses melahirkan inspirasi kreatif menghadapi masalah aktual dalam keberlangsungan sebuah Perguruan Tinggi Islam seperti UIN/IAIN/STAIN. Sedangkan hubungan fungsional lebih menekankan pada usaha  menjelaskan gagasan, menghasilkan tujuan, serta mengarahkan implementasi.

Titik-titik Peradaban Kampus Islam    

Dalam kampus Islam, saya mencermati ada empat titik pusat yang menjadi modal dasar membangun peradaban. Pertama, titik kegiatan. Kehadiran UIN/IAIN/STAIN merupakan pertanda bahwa proses pendidikan di kampus Islam harus diselenggarakan sebagai upaya eksternalisasi, obyektifikasi, dan internalisasi nilai-nilai Islam. Kegiatan pendidikan haruslah bersifat antroposentris-transendental dalam rangka kaderisasi masyarakat yang ideal secara duniawi maupun ukhrawi. Jadi, titik kegiatan ini menekankan kepada Mahasiswa agar selalu belajar dimana pun, kapan pun, dan kepada siapa pun. Ketika kegiatan pembelajaran hanya terhenti pada ruang kuliah, maka di situlah kemunduran yang nyata. Corak cooperative learning dan learning society dapat diterapkan. Cooperative learning memfokuskan pada partisipasi aktif-dinamis, sedangkan learning society memfokuskan pada pembelajaran berbasis banyak sumber sehingga melahirkan corak integrasi-interkoneksi, dedikatif-inovatif, serta inklusif-continous improvement. Tanpa kegiatan yang produktif, niscaya iklim akademis di kampus Islam akan mengalami stagnasi yang menyedihkan sekaligus mengerikan. Tidak ada semangat yang terpancar. Padahal, jantung ajaran Islam sendiri telah memberikan dorongan kepada manusia yang bergelar khairu ummah untuk mengerjakan  amal prestatif yang terpuji, dapat diunggulkan, serta berdimensi luas melampaui batas-batas kebodohan. Mahasiswa Islam adalah orang yang dapat menyentuh hati, menggandeng tangan, dan membentuk masa depan.

Kedua, titik kelembagaan. Aspek ini memaknai bahwa kampus Islam adalah lokus dalam mempromosikan sekaligus memberdayakan potensi manusia sesuai dengan  nilai-nilai Islam. Saat saya mengikuti kuliah bersama Professor Suyata, Ph.D (alumni UCLA) di kelas, beliau mengatakan bahwa setiap atasan pada sebuah lembaga pendidikan mesti memiliki jiwa educator, manager, administrator, supervisor, dan leadership. Hal ini memang wajar, sebab kualitas suatu lembaga sangatlah tergantung dari kapabilitas pimpinannya. Oleh sebab itu, pendidikan yang masih berbasis birokrasi harus sudah diganti dengan sistem pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat dan pendidikan harus menumbuhkan jiwa indepedensi, menggerakkan, pernyataan diri, mengajar Mahasiswa untuk hidup dalam harmoni dengan menghargai adanya perbedaan-perbedaan. Sistem pendidikan dalam kelembagaan harus berubah dari instruksional menjadi motivasional berprestasi, berkreasi, dan berbudi pekerti (Suwito, 2016:188). Hemat saya, sudah saatnya kita meninggalkan logika korporasi-politis menuju logika kompetisi-akademis agar tidak tertinggal jauh dari kampus-kampus Islam lain khususnya di Jawa. Dengan demikian, kita bisa membedakan mana kampus dan mana pasar.

Ketiga, titik pemikiran. Aspek ini adalah paradigma teoritik yang disampaikan berdasarkan nilai-nilai Islam. Dimensi pemikiran bersifat ijtihadi, interpretatif, dan konseptual. (Abd. Rachman Assegaf, 2005:105). Saya lebih menekankan aspek pemikiran ini kepada kalangan Mahasiswa namun tidak menutup pintu untuk para dosen yang ingin berdialektika. Sebagai masyarakat di kampus Islam, sudah sepantasnya kita mendasarkan pemikiran melalui kesatuan tauhid, kesatuan makhluk, kesatuan kebenaran dan ilmu pengetahuan, kesatuan hidup, serta kesatuan manusia (Muhammad Shafiq, 2000:163-167).  Dimensi kesatuan ini sebenarnya bermuara pada dua inti pokok yaitu  “khalifatullah” dan “abd”Khalifatullahberdimensi intelektualitas yang mencerminkan spirit kebudayaan sekaligus kecerdasan untuk merumuskan konsep-konsep pemikiran yang mendalam dan menyeluruh demi mencari jalan keluar  dari berbagai dilema  yang dihadapi manusia secara konkret. Sedangkan abdberdimensi moralitas yang memberikan aturan, arahan, dan tujuan dalam merealisasikan kapasitas intelektual. Perpaduan antara kedua inti pokok ini akan membuat karakter berpikir Mahasiswa bercorak  simple, meaningful, and argumentative, bukan lagi berorientasi pada logika korporatif.

Keempat, titik kualitas. Aspek ini merupakan kolaborasi dari dimensi kurikulum, alumni, dosen, sarana-prasarana, dan buku rujukan. Saya mencermati, kelima dimensi di atas merupakan pilar penyangga utama yang menentukan maju mundurnya sebuah lembaga. Dari sisi kurikulum, maka sudah saatnya kampus Islam mulai mengarahkan materi, tujuan, proses, media, dan evaluasi ke orientasi baru yang berwawasan kebangsaan terutama pada studi SKI, Fiqh, dan Akhlak. Agar supaya gerakan transnasional tidak mudah merasuki ideologi para Mahasiswa yang menjadikan mereka fanatik, radikal, bahkan sektarian. Di samping wawasan kebangsaan, wawasan demokrasi, wawasan HAM, dan wawasan pluralisme juga mutlak diterapkan. Ketiga wawasan terakhir ini akan membentuk pribadi Mahasiswa yang menjunjung tinggi nilai-nilai persamaan, kebebasan, keadilan, kewajiban individu-kolektif, toleransi, kompetisi, partisipasi serta semangat berprestasi.

Dari sisi alumni, sepertinya kampus Islam masih malu-malu untuk memproklamirkan kepada masyarakat luas. Mutu alumni kampus Islam masih menjadi tanda tanya besar. Ini semua karena tidak adanya punishment yang diberikan pimpinan kepada setiap Dekan Fakultas yang gagal mempersembahkan alumninya. Dari sisi dosen, beban kerja berbau administratif harus dikurangi. Supaya konsentrasi mereka terhadap tri dharma Perguruan Tinggi bisa maksimal. Semua dosen wajib memiliki paspor dan jaringan relasi yang luas lewat penelitian, pertukaran (exchange) atau sistem magang di dalam maupun di luar Negeri. Tentunya kapasitas bahasa juga harus ditingkatkan. Implikasi konsep relasional akan membuat dosen paham akan aspek-aspek teritorial secara akurat hingga lebih realistis. Sehingga, ketika mengajar, dosen tidak melulu menggunakan pendekatan normatif-teoritis-dogmatis, melainkan kepada pendekatan issue yang lebih aktual-praktikal-empiris. Hubungan dosen dan mahasiswa hakikatnya bersifat fungsional bukan struktural.

Dari sisi sarana-prasarana, secara teknis, (a) kampus Islam perlu mengangkat seorang ketua fungsional perencana dari pihak Kementerian Agama disandingkan dengan orang dalam yang mempunyai skill di bidang manajemen. Ini untuk menciptakan hirarki yang lebih terkoordinasi (b) Melakukan pengevaluasian secara menyeluruh di masing-masing Fakultas minimal sebulan sekali (c) Memberikan reward kepada anggota cleaning service dan selalu berkonsultasi apa keluhan dan apa yang mereka butuhkan. Selain teknis, saya pikir di masing-masing kelas antar fakultas perlu dipajang foto-foto figur yang  memiliki kontribusi besar hingga temuan-temuan brilian dalam tradisi keilmuan. Bukan justru foto pejabat atau malah dinding-dinding dibiarkan kosong. Saya percaya, perlahan tapi pasti para Mahasiswa akan termotivasi dan mulai memahami bahwa kalau ingin wajahnya dikenang, maka jadilah seorang ilmuwan. Dosen berperan besar dalam menumbuhkan persepsi  ini. Selain itu, ruangan perpustakaan sebagai tempat transaksi ilmu pengetahuan dan Masjid sebagai tempat peribadatan perlu memberikan pelayanan lebih panjang dan penghargaan atas karya-karya Mahasiswa secara berkesinambungan. Dari sisi buku rujukan. Kampus Islam sudah harus memiliki toko buku di masing-masing institusinya. Tentu pengadaan ini melalui kerjasama dengan penerbit terakreditasi dan bereputasi. Dengan demikian, Mahasiswa lebih mudah mengakses dan selalu update dengan buku-buku/jurnal terbaru. Implikasinya adalah mereka dapat memperkenalkan perspektif, memperkaya wacana hingga menciptakan realita.

Catatan Akhir

Sebagai penutup, saya ingin menegaskan bahwa usaha menghubungkan dan mengembangkan keempat titik di dalam kampus Islam ini membutuhkan kesadaran metodologis, sikap kedewasaan empiris serta kesatuan visi-misi yang memiliki landasan yang mapan dari seluruh elemen untuk bergerak maju menggenggam kejayaan. Kejayaan ini akan terlaksana jika kampus Islam memiliki watak kelenturan ketika berhadapan dengan dinamika zaman namun tidak mudah dipatahkan layaknya kain sarung. Politik pecah belah berdasarkan strata, etnis, ideologi dan organisasi lebih baik dihilangkan.  Ini tidak membawa manfaat sama sekali. Uraian-uraian di atas hanyalah upaya untuk memberikan gambaran besar terkait pokok-pokok pemikiran. Maka sangat dibutuhkan data tambahan, kajian bandingan, sekaligus interpretasi lanjutan dari berbagai kalangan yang memiliki rasa keberpihakan juga kepedulian dengan dunia pendidikan.

 

Daftar Pustaka

 Assegaf, Abd. Rachman, Politik Pendidikan Nasional : Pergeseran Kebijakan Pendidikan Agama Islam dari Proklamasi ke Reformasi, Yogyakarta : Kurnia Kalam, 2005.

Shafiq, Muhammad, Mendidik Generasi Baru Muslim, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000.

 Suwito, Mungkin Segalanya Mungkin : Otobiografi Suwito, Jakarta : Young Progressive Muslim, 2016.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *